Punya Anak Lagi
Akhirnya kesampaian juga punya anak kedua. Alhamdulillah. Sekarang lengkap, dua anak yang pertama cewek, umur 6 tahun dan sekarang kelas satu SD di Indonesian International School Yangon (IISY) dan yang kedua cowok. Anak kedua ini asli produk luar negeri. Made in Myanmar. Lahir hari Senin jam 9.10 pagi tanggal 6 oktober 2008. Alhamdulillah, ibu dan anak kedua-duanya sehat. Tapi ada juga sedikit rasa cemas ketika waktu kelahiran akan tiba. Maklum jauh dari sanak sedulur. Takut kalau ada apa-apa.
Cita-cita sih pengin melanggengkan nama besar bapaknya. Jadi, yang pertama namanya Alyssa Khoirunnisa Supriyanto, lahir di Argamakmur, dan yang kedua Abid Aditya Supriyanto.
Hidup di Myanmar sebenarnya cukup asyik. Kotanya tidak terlalu besar, kira-kira sebesar Palembang lah, dan ini kota terbesar di Myanmar. Udara masih bersih, karena sebagian besar kendaraan umum menggunakan CNG (compressed natural gas), dan jumlah kendaraannyapun belum terlalu banyak. So, jarang macet. Tinggal di Yangon juga cukup nyaman karena jarang sekali atau malah hampir tidak pernah terjadi kejahatan seperti copet, perampokan, penodongan dll. Pokoknya dari sisi adem tentremnya bolehlah. Cuma ya itu, dimana-mana pojok kota selalu ada tumpukan karung pasir yang dibelakangnya ada tentara dengan senjata siap tembak. Sepertinya penguasa negri ini selalu dibayangi ketakutan akan terjadinya kerusuhan. Tapi buat orang asing ya gak ngaruh, apalagi kalu kita pake mobil plat putih. Dijamin aman dan lancar.
Cuma ya itu, komunikasi di sini jadi bahan yang sangat mahal. Kalau di Indonesia kita bisa beli nomor perdana seperti beli es cendol, kalu di Myanmar satu nomor perdana harganya bisa mencapai US$2500. Cukup untuk beli mobil sedan bekas di kampung. Itupun harus antri berbulan-bulan. Dan, tidak untuk orang asing (foreigner). Kalau mereka mau pake Hp, ya mesti sewa nomor sama orang Myanmar.
Kembali ke anak tadi, ya. Sebenarnya kami tidak terlalu berharap dapat anak cowok,sih. Maksudnya cewek atau cowok sama saja, yang penting sehat dan lengkap lahir dan batin. Jadi ya tidak ada kiat khusus yang kami terapkan. hanya saja istri saya itu rajin sarapan. Tak pernah lewat. Berdasarkan info dari internet, kebiasaan ini bagus buat pasangan yang ingin dapat anak cowok, gitu. Justru malah kami agak khawatir pada mulanya karena sudah enam tahun istriku ber-KB, dari suntuk sampai pil. Kata orang kalau lama ber-KB bisa susah dapat anak lagi. Tapi ya itu tadi, Alhamdulillah, kersaning Allah, semua lancar. Pada hari istri saya lepas KB rupanya terjadi pembuahan dan kemuadian sembilan bulan berikutnya lahirlah anak kedua kami.
BERGABUNG DENGAN IBU DWP KBRI YANGON
Jujur saja pada awalnya aku sangat takut dan minder untuk hal yang satu ini . tak pernah aku bayangkan harus bergabung dengan ibu – ibu DWP yang lebih pantas menjadi ibuku ketimbang menjadi teman .Apalagi aku tidak punya pengalaman berorganisasi sebelumnya .Beruntug aku punya suami yang sangat mendukungku di dalam mengikuti semua program kerja ibu – ibu DWP. Aku sedkit terhibur , dan perlahan aku mulai bisa beradaptasi dalam pergaulan baru ini . Apalagi ibu – ibu DWP semua bisa menerima aku apa adanya . Mereka semua sangat baik . Perlahan akupun bisa menikmati hidup di Myanmar ,bergabung dengan ibu – ibu ,dan mengikuti semua kegiatan yang ada di KBRI . Terima kasih kuucapkan kepada ibu – ibu DWP yang banyak membimbimgku dalam banyak hal memasak , mengaji , olahraga dll . Ini pengalaman berharga yang tidak akan pernah aku lupakan.
By : mama tiwi
BERTEMU DENGAN ORANG REJANG / BENGKULU
Takku sangka di Myanmar aku bertemu dengan orang yang satu suku denganku . Ibu pariza namanya . Dia sudah tinggal di Myanmar selama 15 tahun , dan telah melahirkan 3 orang anak cap Myanmar ( emang krupuk ada capnya….) . Meskipun dia sudah lupa bahasa rejang , tidak mengurangi rasa bahagia di hatiku . Akupun membantu dia untuk mengingat kembali bahasa rejang ( lok mumei : mau makan , Lok menai : Mau mandi ) dsb . Hari – hari kami lewati bersama , hingga akhirnya dia pulang lebih dulu ke Bengkulu , dikarenakan habis masa kontrak suaminya . Selamat jalan kawan , semoga sukses .
Myanmar
Pergi ke Myanmar? Nggak kebayang sebelumnya. Tapi inilah kenyataannya. Aku dan anakku harus menemani suamiku ke Myanmar (maklum, takut kecantol cewek tanaka he… he..). By the way, asyik juga hidup di Myanmar, meskipun sempat stress turun 3 kg bo…

Aku. Jongkok kedua dari kiri.
Ada cerita unik ketika kami tiba di Yangon International Airport. Kami tiba di Myanmar pada pukul 6.30 sore waktu Myanmar. Bahagia bercampur sedih rasanya dihati kami. Bahagia tiba di Yangon dalam keadaan selamat. Sedih karena semakin jauh dari kampung halaman. Oh….kampuang nan jauah di mato. Oi, dimano ambo kini jauh nian dari sanak saudaro. Kami dijemput oleh guru guru IISY ( Indonesian Internasional School yangon ) tempat suamiku mengajar sekarang. Ada pemandangan unik terasa disini aku melihat sebagian besar laki-laki yang ada di airport ini memakai sarung dan para perempuan yang memakai kain layaknya perempuan idonesia pada zaman penjajaha.Ih… aneh tapi nyata. Dalam hati , banyak juga muslim disini ( Myanmar ) mungkin mereka baru selesai shalat berjemaah. Aku tak sabar rasa ingin tau tentang myanmar semakin memuncak dikepalaku. Akupun bertanya kepada bapak- bapak yang menjemput kami . Aku : kenapa banyak laki – laki yang memakai sarung ? Bapak : inilah pakaian mereka sehari – hari ( aku semakin penasaran…..) .
Hari demi hari kulalui , semakin banyak hal hal aneh yang ku temui disini . Tak hanya sarung , tradisi mengunyah / memakan sirih layaknya menjadi makanan pokok buat mereka . Mereka bisa melakukan itu dimana saja di pasar , di bus , di jalanan raya , bahkan di hotel berbintang sekalipun ( lagi – lagi aneh tapi nyata…) . Walhasil dimana - mana ada ludahan sirih , dengan bau yang sangat menyengat . Bukan hanya itu , tanaka ( pohon kayu ) yang digesek – gesek ke batu dan diberi sedikit air menjadi bedak sehari – hari kaum hawa disini . Bahkan jika musim panas tiba tanaka dibalurin ke seluruh tubuh , tanpa memandang pria , wanita , tua dan muda . Karena konon katanya tanaka bisa membuat kulit terasa dingin . Oh ya , ada satu lagi , sandal jepit yang tak bisa di pisahkan dari kehidupan mereka ( buat para pedagang sandal jepit cocok kali yee…hidup disini ) . So … sarung / long yi , sirih , tanaka , dan sandal jepit adalah sahabat sejati mereka . I am sorry Myanmar , bukan menghina…. . Ok lanjut ke cerita berikutnya.
By : Mama Tiwi.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Januari 2009 (3)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
