Myanmar
Pergi ke Myanmar? Nggak kebayang sebelumnya. Tapi inilah kenyataannya. Aku dan anakku harus menemani suamiku ke Myanmar (maklum, takut kecantol cewek tanaka he… he..). By the way, asyik juga hidup di Myanmar, meskipun sempat stress turun 3 kg bo…

Aku. Jongkok kedua dari kiri.
Ada cerita unik ketika kami tiba di Yangon International Airport. Kami tiba di Myanmar pada pukul 6.30 sore waktu Myanmar. Bahagia bercampur sedih rasanya dihati kami. Bahagia tiba di Yangon dalam keadaan selamat. Sedih karena semakin jauh dari kampung halaman. Oh….kampuang nan jauah di mato. Oi, dimano ambo kini jauh nian dari sanak saudaro. Kami dijemput oleh guru guru IISY ( Indonesian Internasional School yangon ) tempat suamiku mengajar sekarang. Ada pemandangan unik terasa disini aku melihat sebagian besar laki-laki yang ada di airport ini memakai sarung dan para perempuan yang memakai kain layaknya perempuan idonesia pada zaman penjajaha.Ih… aneh tapi nyata. Dalam hati , banyak juga muslim disini ( Myanmar ) mungkin mereka baru selesai shalat berjemaah. Aku tak sabar rasa ingin tau tentang myanmar semakin memuncak dikepalaku. Akupun bertanya kepada bapak- bapak yang menjemput kami . Aku : kenapa banyak laki – laki yang memakai sarung ? Bapak : inilah pakaian mereka sehari – hari ( aku semakin penasaran…..) .
Hari demi hari kulalui , semakin banyak hal hal aneh yang ku temui disini . Tak hanya sarung , tradisi mengunyah / memakan sirih layaknya menjadi makanan pokok buat mereka . Mereka bisa melakukan itu dimana saja di pasar , di bus , di jalanan raya , bahkan di hotel berbintang sekalipun ( lagi – lagi aneh tapi nyata…) . Walhasil dimana - mana ada ludahan sirih , dengan bau yang sangat menyengat . Bukan hanya itu , tanaka ( pohon kayu ) yang digesek – gesek ke batu dan diberi sedikit air menjadi bedak sehari – hari kaum hawa disini . Bahkan jika musim panas tiba tanaka dibalurin ke seluruh tubuh , tanpa memandang pria , wanita , tua dan muda . Karena konon katanya tanaka bisa membuat kulit terasa dingin . Oh ya , ada satu lagi , sandal jepit yang tak bisa di pisahkan dari kehidupan mereka ( buat para pedagang sandal jepit cocok kali yee…hidup disini ) . So … sarung / long yi , sirih , tanaka , dan sandal jepit adalah sahabat sejati mereka . I am sorry Myanmar , bukan menghina…. . Ok lanjut ke cerita berikutnya.
By : Mama Tiwi.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Januari 2009 (3)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS